List
  • Bahasa Indonesia
  • English

Banyak orang Lulusan Perguruan Tinggi di Indonesia merasa “rendah diri” ketika berhadapan dengan mereka yang lulus dari perguruan tinggi luar negeri. Begini caranya yang dilakukan oleh saya pribadi terhadap bidang studi saya: Teknik (Rekayasa) Sistem dan Industri (Industrial & Systems Engineering) agar berkualifikasi internasional.

Meskipun saya adalah lulusan Industrial & Systems Engineering (ISE) dari ITB yang “hanya” memiliki peringkat 801 dunia (peringkat 2 Indonesia) tetapi tetap percaya diri bahwa saya tidak akan kalah dari lulusan perguruan tinggi nomor 1 dunia yaitu lulusan dari California Institute of Technology (Caltech) seperti terlampir. Bagaimana caranya?

Cari di website Caltech tentang bidang ilmu kita. Saya memperoleh website yang berkaitan dengan keahlian saya sebagai berikut:
https://ctme.caltech.edu/systems-engineering

Lihat informasi dalam website dari PT peringkat No 1 dunia itu, berupa bidang keahlian apa yang harus saya tingkatkan sesuai dengan bidang keilmuan kita. Setelah itu pilih kursus-kursus singkat bersertifikat langsung dari universitas top dunia itu sebagai “perantara” untuk mencapai kualifikasi kelas dunia. Saya pribadi memilih kursus singkat tentang Lean Six Sigma melalui website berikut:
https://ctme.caltech.edu/project-management/lean-six-sigma

Setelah memperoleh sertifikat, maka belajar lebih giat untuk mengikuti ujian sertifikasi dari asosiasi profesional kelas dunia, untuk bidang saya adalah Lean Six Sigma dari the American Society for Quality (ASQ), Certified in Production and Inventory Management (CPIM) dan Certified Supply Chain Professional (CSCP) dari APICS (d/h the American Production and Inventory Control Society). Informasi sertifikasi kelas dunia itu bisa dilihat dalam website berikut:

Setelah memperoleh sertifikasi kelas dunia di atas, maka bilang kepada diri sendiri bahwa meskipun saya lulusan lokal TETAPI berkualifikasi internasional (kelas dunia). Siapa Takut menghadapi persaingan dalam pasar tenaga kerja internasional? Bukankah Indonesia juga dunia dan merupakan internasional. Mengapa harus rendah diri kepada mereka yang lulusan luar negeri? Bukankah sama-sama di dunia?


Sertifikasi Dosen (Serdos) juga untuk tambah income bulanan. Bagaimana mungkin dunia pendidikan di Indonesia akan maju apabila guru/dosen masih memikirkan tambahan income bulanan untuk menghidupkan keluarga mereka? Konsekuensinya lulusan pendidikan tinggi di Indonesia yang TIDAK CERDAS & TIDAK KREATIF akan mengalami kesulitan memasuki pasar tenaga kerja baik di Indonesia, ASEAN, maupun internasional. Apalagi ditambah metode pembelajaran usang di perguruan tinggi Indonesia, di mana berdasarkan riset (terlampir: Edgar Dale’s Cone of Learning) bahwa mahasiswa HANYA mampu mengingat apa yang diajarkan dalam waktu terbatas. Setelah semester berlalu TELAH lupa, sehingga waktu dinyatakan LULUS dan wisuda HANYA memperoleh kebanggaan semu karena “tidak paham bagaimana aplikasinya”.


Akibat dari metode pembelajaran usang yang masih dipraktekkan dalam dunia perguruan tinggi di Indonesia sehingga di samping lulusan PT Indonesia TIDAK KOMPETITIF juga peringkat PT Indonesia sangat rendah di Asean maupun dunia. Anehnya BUKAN memperbaiki metode pembelajaran dan meningkatkan kualifikasi dosen-dosen TETAPI menteri riset dan pendidikan tinggi bermaksud merekrut Rektor Asing. Tidak ada jaminan bahwa orang asing akan mampu meningkatkan peringkat PT Indonesia, KECUALI menambah popularitas saja bagi PT yang dipimpin oleh Rektor Asing itu karena orang-orang di Indonesia masih mengalami KRISIS kepercayaan diri, dan merasa “bangga” dengan hal-hal yang berbau Asing.
http://nasional.sindonews.com/read/1113574/144/pemerintah-akan-rekrut-orang-asing-jadi-rektor-ptn-1464874290

Salam SUCCESS.

WordPress Tabs Free Version

css.php