List
  • Bahasa Indonesia
  • English

Oleh: Vincent Gaspersz, Lean Six Sigma Master Black Belt & Certified Management System Lead Specialist

  • APICS (www.apics.org) Certified Fellow in Production and Inventory Management (CFPIM) and Certified Supply Chain Professional (CSCP);
  • International Quality Federation (www.iqf.org) Six Sigma Master Black Belt (SSMBB);
  • ASQ (www.asq.org) Certified Manager of Quality/Organizational Excellence (CMQ/OE), Certified Quality Engineer (CQE), Certified Quality Auditor (CQA), Certified Six Sigma Black Belt (CSSBB), Certified Quality Improvement Associate (CQIA);
  • Registration Accreditation Board (www.exemplarglobal.org) Certified Management System Lead Specialist (CMSLS).
  • Senior Member of American Society for Quality (Member #: 00749775), International Member of American Production and Inventory Control Society (Member #: 1023620), and Senior Member of Institute of Industrial and Systems Engineers (Member #: 880194630).
  • Insinyur Profesional Utama (IPU) – Persatuan Insinyur Indonesia (PII)

 

Banyak penulis mendefinisikan risiko sebagai probabilitas kerugian dikalikan dengan jumlah kerugian (dalam nilai moneter), sehingga sering ditulis sebagai: Risiko = p (rugi) x nilai (kerugian).

Definisi klasik dari risiko adalah probabilitas terjadinya kejadian yang tidak diinginkan dikalikan dengan konsekuensi (kerugian) dari kejadian tersebut.

Selanjutnya dikemukakan konsep perhitungan skor risiko (risk score) merupakan proses di mana suatu aktivitas berisiko akan menentukan skor risiko. Skor risiko menunjukkan tingkat risiko yang terkait dengan suatu permintaan yang diijinkan untuk mengakses sumber daya atau pertimbangan untuk menggunakan sumber daya (waktu, uang, energi, dll). Skor risiko ini kemudian dibandingkan dengan skor ambang batas yang ditetapkan dalam sebuah kebijakan atau pertimbangan obyektif. Keputusan dibuat berdasarkan hasil perbandingan antara skor risiko terhadap ambang batas ini, di mana jika skor risiko masih berada dalam batas toleransi, maka keputusan untuk menggunakan sumber-sumber daya itu dianggap layak berdasarkan pertimbangan risiko yang diperhitungkan.

Perhatikan landasan pemikiran VG berikut:

  1. Probabilitas GAGAL = 100% – Probabilitas SUCCESS berarti Probabilitas SUCCESS = 100% – Probabilitas GAGAL.
  2. Nilai Kerugian apabila dimasukkan ke dalam nilai TARGET yang diukur dalam persentase pencapaian TARGET (ideal = 100%), maka berlaku: Persentase Nilai Kerugian = 100% – Pencapaian Nilai TARGET. Berarti: Nilai SUCCESS = Persentase Pencapaian TARGET (Ideal 100%, jika lebih dari 100% maka dianggap bonus).

Setelah poin 1 dan 2 di atas dapat diterima, maka Skor SUCCESS telah dapat dihitung atau diperkirakan sebelum suatu tindakan, yaitu: Skor SUCCESS = Persentase SUCCESS x Persentase Pencapaian TARGET SUCCESS, sehingga Skor SUCCESS akan bergerak dari 1% sampai 100%.

Catatan: 0% dihilangkan untuk keperluan aplikasi konsep Skor SUCCESS dan diberikan kepada pribadi-pribadi yang TAKUT GAGAL yang dalam kenyataan TIDAK akan melakukan keputusan apa-apa sehingga layak memperoleh Skor SUCCESS = 0%.

VG telah membuat diagram pemetaan Skor SUCCESS melalui menetapkan persentase pencapaian TARGET SUCCESS pada sumbu vertikal dan Probabilitas Mencapai SUCCESS pada sumbu horizontal seperti ditunjukan dalam Bagan 1 terlampir di atas.

Proses mengubah skor risiko menjadi skor SUCCESS ini dalam kerangka berpikir kritis telah termasuk tingkat tertinggi (evaluasi), yaitu mengembangkan opini, pertimbangan, dan keputusan untuk dipergunakan dalam fenomena baru tertentu (lihat Bagan 2. Critical Thinking Skills).


 

Selanjutnya melalui suatu kebijakan pribadi, team, manajemen, dstnya, kita bisa menetapkan ambang batas toleransi pada tingkat skor SUCCESS berapa kita akan melakukan keputusan berisiko karena akan mengorbankan sejumlah sumber-sumber daya (waktu, uang, energi, dll) ketika melaksanakan aktivitas berisiko itu. Secara pribadi VG akan menggunakan angka 80% sebagai angka yang layak untuk melaksanakan keputusan berisiko.

Permasalahannya bagaimana kalau Skor SUCCESS belum mencapai 80% dari suatu keputusan berisiko yang sedang dipertimbangkan itu?

Apabila dalam kasus Skor SUCCESS belum mencapai 80%, maka kita HARUS melakukan intervensi untuk: (1) Meningkatkan Probabilitas SUCCESS, dan (2) Meningkatkan Persentase Pencapaian Target SUCCESS yang akan dibahas berikut.

 

A. Strategi Meningkatkan Probabilitas SUCCESS

VG selalu KONSISTEN menggunakan aplikasi PDCA for SUCCESS untuk meningkatkan Probabilitas SUCCESS. Penggunaan PDCA for SUCCESS dapat dilihat dalam Bagan 3 PDCA Management Framework for SUCCESS yang dilakukan dengan beberapa langkah berikut:


 

  1. Tentukan Konteks dalam PDCA for SUCCESS itu. Konteks dapat berupa sekolah, kuliah, aplikasi dalam bidang tertentu misal ingin menjadi seorang professional dalam bidang akuntansi, property, kualitas, supply chain management, dll. Konteks juga dapat diterapkan pada upaya membuka bisnis baru, pengembangan bisnis, berpindah profesi dari karyawan menjadi investor, dll. Konteks juga dapat berupa apa saja seperti keputusan VG untuk menyekolahkan putera-putera ke jenjang yang lebih tinggi dengan biaya sendiri di luar negeri, dll. Pokoknya semua keputusan berisiko dapat dimasukan ke dalam konteks yang dipertimbangkan.
  2. Mulai dengan Plan (Perencanaan) yang memenuhi kriteria (a) memiliki sasaran atau tujuan dari konteks yang dirumuskan menggunakan prinsip SMARTERS (Specific, Measurable, Achievable through actionable, Result-oriented, Timely, Empowerment and evaluation, Review and recognition, Spirituality), (b) merangkum semua Key SUCCESS Factors (KSFs) yang terkait dengan konteks yang sedang dipertimbangkan, dan (c) menstandardisasikan semua key SUCCESS factors (KSFs) menjadi rencana aksi/tindakan dalam format daftar periksa (checklists) atau 5W2H (What, Why, Where, When, Who, How, How much).
  3. Melaksanakan (Do) terhadap rencana aksi yang memuat semua key SUCCESS factors (KSFs) apakah berbentuk daftar periksa (checklists) atau 5W2H (What, Why, Where, When, Who, How, How much).
  4. antara TARGET SUCCESS yang telah ditetapkan menggunakan pendekatan SMARTERS dalam poin 1 di atas dengan hasil-hasil aktual yang diperoleh melalui implementasi rencana aksi dari key SUCCESS factors menggunakan daftar periksa (checklists) atau 5W2H (What, Why, Where, When, Who, How, How much).
  5. Melakukan tindakan (Act) menggunakan dua pertimbangan berikut, yaitu: (a) jika pencapaian TARGET SUCCESS tidak mencapai 100%, maka lakukan solusi masalah melalui memeriksa ulang poin 1, 2, dan 3 di atas, dan (2) jika pencapaian TARGET SUCCESS telah mencapai 100% atau lebih , maka lakukan perbaikan terus-menerus baik menggunakan small improvement (Kaizen) atau breakthrough improvement (Innovation) terhadap poin 1, 2, 3, dan 4 di atas.

Jika PDCA for SUCCESS (poin 1 – 5) di atas dilakukan secara berulang-ulang, maka kita akan memperoleh pembelajaran yang sesungguhnya dalam kehidupan nyata (learning for life), terjadi perubahan pola pikir untuk perbaikan terus-menerus (Continual Improvement MINDSET), terjadi perbaikan terus-menerus perilaku (Continual Improvement ATTITUDE), akan membentuk kebiasaan-kebiasaan professional (Professional Habits), yang pada akhirnya akan menjadi karakter professional (Professional Character).

 

B. Strategi Meningkatkan Pencapaian Target SUCCESS

Pencapaian TARGET SUCCESS di samping dapat ditingkatkan menggunakan PDCA for SUCCESS, juga kita dapat menggunakan pendekatan penetapan Multi Objectives atau Multi Goals. Orang-orang GAGAL sering bekerja dengan sasaran tunggal (single objective/goal).

Bagan 4 dan Bagan 5 menunjukan pola bekerja orang-orang GAGAL versus pola bekerja orang-orang SUCCESS. Tampak bahwa pola bekerja Orang GAGAL seperti garis-garis dalam buku tulis, melalui hanya menetapkan satu tujuan (single objective) dalam setiap kali memulai aktivitas. Sedangkan Orang SUCCESS menetapkan banyak tujuan (multi objectives) ketika memulai suatu aktivitas berisiko.



 

Jelas tingkat PRODUKTIVITAS (PRODUCTIVITY = OUTPUT / INPUT) dari Orang SUCCESS yang menetapkan multi objectives/goals jauh lebih tinggi daripada Orang GAGAL yang hanya menetapkan single objective/goal.

Banyak orang sering mengucapkan pepatah kuno berikut TETAPI hanya sedikit orang yang TELAH mempraktekkannya apalagi sampai membuat pepatah kuno itu menjadi kebiasaan-kebiasaan (HABITS) sebagai seorang profesional yang berkarakter unggul dan memiliki nilai EC (Effectiveness of Competence) di atas 100%.

  • “Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui, juga sekali tepuk dua lalat artinya satu kali melakukan pekerjaan, mendapatkan beberapa hasil (atau keuntungan) sekaligus”.
  • “Sambil menyelam, minum air, artinya mengerjakan suatu pekerjaan, dapat pula menyelesaikan pekerjaan atau masalah yang lain”.
  • “Sekali membuka pura, dua tiga utang terbayar, artinya satu kali melakukan pekerjaan, mendapatkan beberapa hasil (atau keuntungan) sekaligus”

Tujuan menetapkan “multi objectives” adalah berkaitan dengan peningkatan PRODUKTIVITAS (PRODUCTIVITY) setiap waktu selama perjalanan menuju SUCCESS! Di samping itu jika kita menetapkan “multi objectives”, maka kita akan memperoleh banyak hasil (outputs), yang sekaligus juga akan meningkatkan pencapaian TARGET SUCCESS apabila dikombinasikan secara tepat dengan PDCA for SUCCESS.

Saya pribadi ketika melakukan suatu aktivitas berisiko (apa saja) minimum HARUS memiliki beberapa tujuan sekaligus (multi objectives).

Sebagai misal jika saya akan menulis sebuah buku PRAKTIS (PRAKtek TIdak Sulit), maka proses penulisan buku HARUS memiliki tujuan-tujuan (multi objectives) berikut:

  • Tujuan No. 1 (Objective 1 = O1): Merealisasikan Visi VG yaitu: UANG (Usaha Agar Nama Gemilang).
  • Tujuan No. 2 (Objective 2 = O2): Memperoleh “Credit Point” (Kum) agar bisa mempertahankan gelar-gelar profesional VG dari APICS—the American Production and Inventory Control Society (setiap 5 tahun sekali harus diperbaharui) dan ASQ—the American Society for Quality (setiap tiga tahun sekali harus diperbaharui).
  • Tujuan No. 3 (Objective 3 = O3): Memperoleh pengetahuan baru (new knowledge) dalam proses penulisan buku agar meningkatkan nilai EC (Effectiveness of Competence).

    Catatan: VG TIDAK pernah menulis buku yang dia sudah mengetahui atau menguasai ilmu pengetahuan itu, karena jika ini dilakukan, maka TIDAK akan memperoleh pengetahuan baru dari proses pembelajaran melalui penulisan buku itu.

  • Tujuan No. 4 (Objective 4 = O4): Memperoleh PENDAPATAN AKTIF melalui menjadi Konsultan dan/atau Master Coach di perusahaan-perusahaan bisnis dan industri.

    Catatan: karena sasaran pembaca adalah Top Management dan/atau Pemilik Perusahaan (Owners), maka VG TIDAK MAU menulis buku-buku yang rumit dan bersifat teori karena hal itu TIDAK akan memenuhi Tujuan No. 4 ini yaitu memperoleh kesempatan untuk menjadi Konsultan dan/atau Master Coach.

    Buku yang akan dibaca oleh Top Management dan/atau Owners dari perusahaan bisnis dan industri adalah topik-topik yang berkaitan dengan bagaimana menciptakan keuntungan (profitability) bagi bisnis dan industri, bagaimana meningkatkan kualitas agar memuaskan pelanggan, bagaimana memperbaiki proses bisnis dan industri agar meningkatkan produktivitas, kualitas, efisiensi biaya, serta bagaimana meningkatkan keunggulan sumber daya manusia bagi perusahaan bisnis dan industri? Pada hakekatnya buku-buku yang laris dan akan dibaca oleh Top Management dan/atau Owners perusahaan bisnis dan industri adalah buku-buku yang berkaitan dengan model 5P: Profitability, Products (Goods & Services) Excellence, Processes Excellence, People Excellence, dan Performance Excellence (Continual Performance Improvement).

  • Tujuan No. 5 (Objective 5 = O5): Mempromosikan KOMPETENSI VG kepada publik sebagai upaya mencapai Tujuan No. 1 (Objective 1 = O1) yaitu merealisasikan Visi UANG (Usaha Agar Nama Gemilang). Penulisan buku merupakan media GRATIS untuk mempublikasikan KOMPETENSI kita kepada publik (setiap halaman belakang buku VG selalu mencantumkan jasa profesional dan riwayat hidup sebagai seorang profesional di bidang bisnis dan industri).
  • Tujuan No. 6 (Objective 6 = O6): Memperoleh PENDAPATAN PASIF berupa royalti hasil penjualan buku-buku yang ditulis itu.
    Perhatikan banyak orang yang ketika menulis buku HANYA mengejar Tujuan No. 6 (O6) saja dan kadang-kadang itu merupakan satu-satunya tujuan mereka, sedangkan VG menempatkan pada tujuan terakhir sehingga sekalipun Tujuan No. 6 (O6) mungkin GAGAL atau hasilnya tidak sesuai yang diharapkan, maka masih ada lima tujuan lain (O1 sampai O5) yang PASTI SUCCESS!

TAMPAK jelas bahwa berpikir dan menerapkan konsep Multi Objectives akan meningkatkan Produktivitas (Productivity = Output / Input), sehingga jika banyak orang HANYA memperoleh “satu” SUCCESS, maka kita akan memperoleh “banyak” SUCCESS sekaligus dari sistem bekerja (Input – Processes – Outputs) yang sangat efektif dan sangat efisien ini.

Uraian di atas menunjukkan bahwa pemahaman terhadap Skor SUCCESS akan membuat kita termotivasi untuk menerapkan strategi SUCCESS, sehingga akan terjadi penguatan positif (positive reinforcement) dalam diri kita. Ungkapan berani GAGAL bukan sekedar memiliki mental keberanian TETAPI memiliki alasan rasional berdasarkan perhitungan Skor SUCCESS yang harus memenuhi ambang batas keputusan berisiko seperti memiliki Skor SUCCESS di atas 80%baru aktivitas berisiko itu dilakukan.

Pemahaman Skor SUCCESS akan menjadi sempurna apabila kita mampu mengintegrasikan kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual sebagai satu konsep terintegrasi seperti ditunjukan dalam Bagan 6.

WordPress Tabs Free Version

css.php